Larantuka, inewsindonesia.com - Pada peringatan Jumat Agung, 3 April 2026, ribuan umat Katolik dari Keuskupan Larantuka dan berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur seperti Lembata, Maumere, Ende, hingga Kupang, berkumpul di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, untuk mengikuti rangkaian tradisi Semana Santa yang berlangsung khidmat.

Kota Larantuka yang dikenal sebagai Kota Reinha Rosari pun mulai berdenyut kencang. Ribuan peziarah dari berbagai penjuru nusantara bahkan mancanegara memadati kota ini untuk mengikuti puncak perayaan sakral yang telah berlangsung selama ratusan tahun tersebut.

Perayaan Jumat Agung di Larantuka memiliki kekhasan yang tidak ditemukan di tempat lain. Tradisi Prosesi Semana Santa yang diwariskan secara turun-temurun menjadikan kota ini sebagai salah satu pusat ziarah rohani penting bagi umat Katolik.

Salah satu rangkaian utama yang paling dinantikan adalah Prosesi Bahari atau Prosesi Laut pengantaran Patung Tuan Meninu. Prosesi ini menjadi pembuka rangkaian perayaan Jumat Agung pada pagi hari, sebelum dilanjutkan dengan prosesi darat pada malam harinya.

Prosesi Bahari dilakukan dengan mengarungi Selat Gonsalu sejauh kurang lebih lima kilometer, dari Kapela Tuan Meninu di Kampung Rewido menuju Pantai Kuce di pusat Kota Larantuka. Dalam arak-arakan tersebut, patung Yesus dibawa menggunakan perahu dalam suasana yang tetap khusyuk meski cuaca sempat diguyur hujan.

Ribuan umat Katolik turut mengikuti prosesi laut ini dengan menggunakan perahu-perahu kecil maupun kapal yang mengiringi sampan utama. Sepanjang perjalanan, doa dan nyanyian dilantunkan bersama hingga rombongan tiba di Pantai Kuce.

Menariknya, perhelatan tahun ini terasa semakin istimewa dengan kehadiran para nelayan tangguh dari Lamalera, Kabupaten Lembata. Mereka turut ambil bagian dengan membawa peledang, perahu tradisional pemburu paus yang melegenda, sebagai pengawal dalam prosesi suci tersebut.

Kehadiran peledang tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga simbol persaudaraan yang telah terjalin lama antara masyarakat Larantuka dan Lembata.

Sampan utama yang digunakan dalam prosesi dikenal sebagai “berok”, berukuran sekitar 8 meter dengan lebar 80 sentimeter dan dicat hitam. Sampan ini didayung oleh lima orang, terdiri dari tiga pendayung utama dan dua pengarah.

Para pendayung merupakan nelayan lokal Flores Timur yang memiliki nazar rohani atau promesa. Mereka umumnya berasal dari keluarga tradisional yang telah lama terlibat dalam prosesi atau peziarah berpengalaman yang memahami tata cara sakral tersebut.

Setelah prosesi laut selesai, rangkaian dilanjutkan dengan perarakan darat pengantaran Patung Tuan Ma (Bunda Maria) dan Patung Tuan Ana (Yesus) menuju Gereja Katedral Larantuka. Ribuan umat berjalan kaki dengan penuh khidmat mengiringi patung-patung suci tersebut.

Setibanya di Gereja Katedral Larantuka, umat kemudian mengikuti ibadat Jumat Agung sebagai puncak perayaan liturgi.

Pada malam harinya, sekitar pukul 19.00 Wita, prosesi kembali dilanjutkan dengan perarakan malam Jumat Agung. Prosesi ini dimulai dari gerbang Gereja Katedral Larantuka dan mengelilingi kota sejauh kurang lebih tiga kilometer.

Dalam prosesi malam tersebut, patung Tuan Ma dan Tuan Ana diarak melewati delapan armida atau titik perhentian. Sepanjang perjalanan, ribuan umat dan peziarah melantunkan doa dan nyanyian dalam suasana hening, khusyuk, dan penuh permenungan.

Suasana haru dan magis khas Kota Reinha Rosari telah terasa sejak memasuki Tri Hari Suci. Tradisi ini tidak hanya menjadi peristiwa keagamaan, tetapi juga warisan budaya yang memperlihatkan eratnya hubungan antara iman, sejarah, dan kehidupan masyarakat pesisir.

Prosesi Bahari Tuan Meninu menjadi bukti bahwa laut bukan hanya sumber penghidupan bagi masyarakat Larantuka, tetapi juga ruang sakral untuk mengekspresikan iman. Hingga kini, tradisi tersebut terus lestari dan menjadi daya tarik bagi ribuan peziarah yang ingin menyaksikan keagungan Semana Santa di tanah Flores. Rill/Red