TUG7Tfz8TUA7GpYpTUYlGUYpBY==

Breaking News:

00 month 0000

Profil Pius Payong, Seniman Adonara yang Olah Limbah Jadi Karya dan Dirikan Taman Baca

Lk
Font size:
12px
30px
Print

ADONARA, inewsindonesia.com - Kiprah inspiratif datang dari Pius Payong, seorang perajin dan pembuat patung asal Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Ia dikenal mampu mengolah bahan-bahan limbah menjadi karya seni bernilai ekonomi, sekaligus menggagas taman baca bagi anak-anak di wilayahnya.

Selain aktif berkarya, Pius mendirikan Taman Baca Pondok Koli Ata Kiwan yang mulai dirintis sejak Oktober 2025. Ruang belajar alternatif ini difokuskan pada pengenalan bahasa Inggris serta pengembangan kreativitas anak.

Pius hidup bersama istrinya, Rensiana Bulu, dan dua anak. Anak pertamanya, Maria Febiolla Ero Tura, kini menjadi guru honorer di SDK Lamahoda, Kecamatan Adonara. Sementara anak keduanya, Michael Angelli Oladari, sedang menempuh pendidikan di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV).

Sejak kecil, Pius telah menaruh minat besar pada dunia seni. Ia menekuni berbagai jenis karya, mulai dari seni ukir hingga patung berbahan semen. Pemanfaatan tempurung kelapa sebagai media seni mulai ia dalami sejak 2015.

“Setiap karya punya cerita sendiri. Bagi saya, nilai seni bukan dari bagus atau tidak, tetapi dari makna yang ada di dalamnya,” ujarnya. Rabu (18/03).

Dalam berkarya, Pius memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti akar kayu, bambu, dan tempurung kelapa. Selain bernilai estetika, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan dengan mengurangi limbah rumah tangga.

Ia bahkan memiliki filosofi tersendiri dalam mengolah tempurung kelapa, yang dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur. Produk kerajinan tersebut kerap diminati wisatawan asing karena keunikan dan nilai ramah lingkungannya.

Untuk karya patung dan ukiran kayu, Pius banyak menerima pesanan dari berbagai pihak. Namun, ia mengakui bahwa karya berbasis imajinasi pribadi masih sulit berkembang di daerahnya akibat keterbatasan pasar dan rendahnya apresiasi terhadap seni.

“Kalau karya imajinasi sendiri, di Flores Timur masih sulit dihargai. Apresiasi terhadap seni masih rendah,” katanya.

Ia membandingkan pengalaman saat mengikuti pameran di luar daerah. Menurutnya, patung ukiran kayu bisa dihargai hingga Rp10 juta, sementara di daerah sendiri harga Rp1,5 juta saja kerap dianggap mahal.

Karena itu, Pius lebih banyak menyesuaikan karya dengan permintaan pasar, tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal. Ia kerap memasukkan motif kain tenun khas daerah dalam detail patung, termasuk pada patung santo pelindung.

Meski sering disebut sebagai seniman, Pius merasa belum pantas menyandang predikat tersebut. Ia justru menyebut dirinya sebagai “kui seni”, karena sebagian besar karyanya dibuat berdasarkan pesanan.

Di luar aktivitas berkarya, kepeduliannya terhadap pendidikan mendorong Pius mendirikan taman baca. Ide tersebut muncul setelah ia mengalami kesulitan berkomunikasi dengan wisatawan asing saat mengikuti pameran di luar Flores.

Pengalaman itu menyadarkannya akan pentingnya penguasaan bahasa Inggris sejak usia dini. Ia pun membuka ruang belajar gratis bagi anak-anak di lingkungannya.

Taman baca tersebut tidak hanya menyediakan pembelajaran bahasa Inggris, tetapi juga kegiatan menggambar dan kerajinan tangan. Seluruh kegiatan dilakukan secara sukarela tanpa biaya.

Dalam menjalankan program ini, Pius dibantu relawan lokal, Melinda Palang dari Desa Kolilanang, serta beberapa relawan asing yang pernah terlibat dalam kegiatan komunitas.

Pada masa awal, keterbatasan fasilitas menjadi tantangan utama. Bahkan, anak-anak diminta membawa satu buah kelapa dari rumah untuk diolah menjadi kopra sebagai sumber dana, sementara tempurungnya dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan.

Kini, jumlah peserta mencapai sekitar 50 anak, tidak hanya dari Desa Kolimasang tetapi juga dari wilayah sekitar. Metode belajar yang diterapkan adalah belajar sambil bermain agar anak-anak tetap antusias.

Nama “Koli Ata Kiwan” memiliki makna mendalam. “Koli” merujuk pada wilayah tempat tinggal Pius, sementara “Kiwan” menggambarkan identitas masyarakat pegunungan yang kerap dipandang sebelah mata.

Bagi Pius, nama tersebut menjadi simbol perlawanan terhadap stigma sosial. Ia ingin menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang dan berkarya.

Ke depan, Pius berharap dapat memiliki fasilitas belajar yang lebih layak untuk menampung lebih banyak anak. Ia juga berencana mengembangkan kerajinan berbasis limbah plastik serta program edukasi lingkungan.

Meski masih menghadapi keterbatasan sarana, kegiatan belajar hingga kini tetap berlangsung di pondok kerja sederhana miliknya. Pius pun tetap optimistis dan berkomitmen untuk terus berbagi ilmu serta mengembangkan potensi anak-anak melalui seni dan pendidikan. Rill/Frederikus

Baca juga:

0Komentar

ads banner
ads banner