LARANTUKA, inewsindonesia.com - Upaya memperkuat arah pembangunan pendidikan di Kabupaten Flores Timur mendapat dorongan baru. Dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Tematik Pendidikan yang digelar Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Senin (16/3/2026), Ikatan Guru Indonesia (IGI) setempat memaparkan enam program strategis yang dinilai mampu menjawab tantangan pendidikan di daerah kepulauan tersebut.
Rakor yang berlangsung di Aula Setda Flores Timur itu dipimpin langsung oleh Penjabat Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen. Sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) turut hadir, mulai dari unsur perencanaan, pendidikan, sosial, hingga tenaga kerja. Hadir pula perwakilan perguruan tinggi, dewan pendidikan, serta organisasi profesi guru seperti IGI dan PGRI.
Dalam forum lintas sektor tersebut, IGI Flores Timur tampil dengan pendekatan berbeda. Tidak sekadar memaparkan persoalan, organisasi profesi guru itu menyodorkan analisis disertai solusi konkret yang dirumuskan dalam enam pilar program strategis.
Ketua IGI Flores Timur menegaskan, perubahan lanskap pendidikan menuntut adanya lompatan kebijakan dan inovasi di tingkat daerah. Menurutnya, pendekatan lama tidak lagi relevan untuk menjawab dinamika global dan kebutuhan generasi muda saat ini.
“Kita tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama untuk tantangan yang sudah berubah. Pendidikan di Flores Timur harus berani melakukan lompatan besar,” ujarnya.
Program pertama yang ditawarkan adalah pengembangan sekolah bilingual. IGI menilai penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, menjadi kebutuhan mendesak di tengah peluang global yang semakin terbuka, termasuk di sektor pariwisata.
Meski demikian, penguatan bahasa asing tetap diimbangi dengan pelestarian budaya lokal agar identitas daerah tidak tergerus.
Selanjutnya, IGI mendorong percepatan digitalisasi pendidikan. Dalam konteks Flores Timur yang memiliki karakter wilayah kepulauan, pemanfaatan teknologi dinilai mampu menjembatani kesenjangan akses pendidikan.
Digitalisasi tidak hanya dipahami sebagai penyediaan perangkat, tetapi juga pembangunan ekosistem pembelajaran berbasis teknologi yang inklusif.
Pada aspek literasi, IGI menawarkan pendekatan berbasis sastra. Metode ini diyakini mampu menghidupkan kembali minat baca dan menulis siswa melalui cara yang lebih kreatif dan menyentuh sisi emosional. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami teks, tetapi juga mampu mengembangkan empati dan berpikir kritis terhadap lingkungan sosialnya.
Sementara itu, peningkatan kualitas guru ditempatkan sebagai faktor kunci melalui penerapan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). IGI mendorong perubahan peran guru dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator yang mampu memantik rasa ingin tahu serta pemahaman konseptual siswa secara lebih mendalam.
Di luar aspek akademik, IGI juga mengusulkan penyelenggaraan Lamaholot Cup sebagai wadah pengembangan bakat non-akademik siswa. Kegiatan olahraga ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga memperkuat nilai sportivitas, kebersamaan, dan interaksi sosial di tengah masyarakat.
Program terakhir yang disoroti adalah penguatan sekolah sebagai ruang yang aman dan nyaman. IGI menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari perundungan dan kekerasan, sekaligus mendukung kesehatan mental peserta didik dan tenaga pendidik.
Gagasan yang disampaikan IGI tersebut mendapat respons positif dari pemerintah daerah. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah Flores Timur, Apolonia Corebima, menilai program-program tersebut relevan dalam menjawab berbagai persoalan pendidikan yang selama ini dihadapi.
Dukungan juga datang dari kalangan akademisi. Perwakilan Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka (IKTL) menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi, dan perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan.
Di sisi lain, Penjabat Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen mengingatkan bahwa tantangan sektor pendidikan tidak lepas dari keterbatasan anggaran. Ia menyinggung penurunan dana alokasi umum spesifik grant (DAUSG) dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, pemerintah daerah tetap optimistis mampu mencari solusi melalui sinergi lintas sektor.
Ia juga menyoroti peningkatan jumlah peserta didik yang perlu dikelola sesuai regulasi, serta didukung melalui program remedial dan matrikulasi guna menjaga kualitas pembelajaran.
Rakor tematik pendidikan ini diharapkan tidak berhenti pada tataran wacana. Pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan didorong untuk segera menerjemahkan hasil diskusi ke dalam kebijakan teknis dan program nyata di lapangan.
Dengan kolaborasi yang kuat, Flores Timur diharapkan mampu mempercepat transformasi pendidikan serta mencetak sumber daya manusia yang adaptif, kompetitif, dan tetap berakar pada nilai-nilai budaya lokal.
Penulis: Frederikus Kepitang Dokeng

0Komentar