Jakarta,
14 Juni 2026 – Di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat Papua,
program Cetak Sawah Rakyat (CSR) yang digagas pemerintah melalui
Kementerian Pertanian disambut antusias oleh para petani. Mereka menilai
program ini menjadi jawaban atas kebutuhan pangan yang terus
berkembang, sekaligus membuka harapan baru bagi generasi muda di daerah.
Bagi
para petani di Papua, kehadiran sawah baru tidak hanya membuka peluang
untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga membantu masyarakat
beradaptasi dengan perubahan kebutuhan konsumsi yang terjadi dari waktu
ke waktu.
Markus Homer, Kepala Kampung Tokas, di Distrik
Moswaren, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, mengatakan
masyarakat di daerahnya menyambut baik pembukaan 3.700 hektare lahan
sawah melalui program CSR.
Menurut Markus yang juga Ketua
Kelompok Tani Rata Jaya, pemanfaatan lahan baru dan optimalisasi lahan
yang sebelumnya kurang produktif menjadi area persawahan memberikan
harapan baru bagi masyarakat untuk memperkuat ketersediaan pangan, baik
saat ini maupun di masa mendatang.
“Jadi kami sangat luar biasa
antusias (dengan) program yang diturunkan oleh Presiden kepada kami
orang Papua. Kami sangat senang karena pangan ini, bagi kami masyarakat,
untuk kehidupan kami masyarakat ke depan,” ujar Markus saat
diwawancara.
Markus menyampaikan hal tersebut saat menghadiri
Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua 2026 yang dipimpin
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di kantor Kementerian Pertanian,
Jakarta, Kamis (11/6). Acara itu dihadiri sekitar 200 peserta dari Papua
Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Barat, Papua Barat Daya,
dan Papua.
Ia menilai perubahan zaman telah membawa perubahan
pada pola konsumsi masyarakat, terutama generasi muda yang kini semakin
akrab dengan beras sebagai makanan pokok.
“Jadi generasi kami
sudah berubah, sudah canggih. Generasi (sekarang) tidak bisa berada
(mengonsumsi) makanan-makanan lokal. Mereka sudah adaptasi dengan
makanan-makanan yang sudah disiapkan, mungkin nasi,” katanya.
Selain
perubahan pola konsumsi, Markus juga menyoroti perubahan cara
masyarakat mengelola lahan. Jika dahulu masyarakat terbiasa
berpindah-pindah lokasi berkebun setelah enam hingga sembilan bulan,
kini pola tersebut semakin sulit dilakukan sehingga keberadaan lahan
sawah menetap menjadi solusi yang dinilai relevan.
“Karena sudah
perkembangan sekarang, kita berkebun adalah (tanam) pangan di satu
lokasi, satu tempat, kita hanya tinggal olah saja, tidak bisa
dipindah-pindah lagi. Maka itu kemarin kami di Sorong Selatan, kami
terima 3.700 hektare yang kemarin sudah dikerjakan di tahun 2025. Sudah
percetakan sawah, di tahun 2026 kita siap mau tanam,” ucapnya.
Elias
R. Semih, Kepala Kampung Molase, di Distrik Klamono, Papua Barat Daya,
juga menyampaikan hal senada. Dia menyebut masyarakat menerima program
CSR dengan baik karena diyakini dapat membawa perubahan bagi
perekonomian warga.
“Program ini diterima, dikelola oleh masyarakat supaya ekonomi mereka itu ada perubahan,” ujar Elias.
Elias
sendiri merupakan pemilik tanah adat di wilayah pelaksanaan program. Ia
mengatakan kebutuhan pangan masyarakat Papua hingga saat ini belum
selalu dapat terpenuhi secara optimal. Karena itu, pengembangan lahan
sawah dinilai penting untuk memperkuat ketersediaan pangan sekaligus
membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Elias
berharap program tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi
masyarakat, terutama dalam meningkatkan taraf hidup warga di tingkat
akar rumput.
“Terima kasih untuk Bapak Presiden Prabowo yang
begitu antusias untuk melihat masyarakat ekonomi akar rumput di bawah
dan mereka punya hidup. Mudah-mudahan ke depan menjadi baik, menjadi
perubahan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Teguh
Apmin Kampung Swentab, Distrik Kemtuk Gresi, Kabupaten Jayapura, Rizal
Beno, menilai program Cetak Sawah Rakyat memberikan manfaat nyata bagi
masyarakat Papua. Ia berpendapat program tersebut menunjukkan perhatian
pemerintah terhadap pengembangan pertanian dan peningkatan kesejahteraan
petani di Papua.
Ia menjelaskan kelompok taninya memperoleh
alokasi cetak sawah seluas 50 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 5
hektare telah mulai ditanami. Namun, menurut Rizal, masih diperlukan
dukungan sarana dan prasarana untuk mendukung keberlanjutan usaha tani,
terutama pada tahap panen.
Saat ini, kata dia, bantuan yang
tersedia telah membantu petani dalam pengolahan lahan dan penanaman.
Namun, fasilitas pascapanen seperti mesin panen belum tersedia sehingga
diharapkan dapat dipenuhi pada tahap berikutnya.
“Yang sudah ada
itu untuk pengolahan sawah. Sedangkan untuk panen hasil setelah kita
tanam, itu belum ada. Seperti mesin panen, itu kita belum ada. Hanya
kita punya mesin untuk olah tanah, terus kita tanam,” jelasnya.
Meski
demikian, Rizal menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas dukungan
yang diberikan kepada petani di Papua dan berharap program tersebut
dapat terus berlanjut dengan dukungan fasilitas yang lebih lengkap.
Pada
kesempatan itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan
pemerintah akan terus memperkuat pembangunan pertanian di Papua melalui
berbagai program strategis. Dalam dua tahun terakhir, pemerintah telah
mengalokasikan anggaran sekitar Rp5 triliun untuk mendukung pengembangan
sektor pertanian di Tanah Papua.
Menurut Amran, pembangunan
pertanian di Papua menjadi bagian dari upaya pemerintah mewujudkan
kemandirian pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan
masyarakat di wilayah timur Indonesia.
"Kita inginkan Papua,
Kalimantan, Sumatera dan Jawa mandiri pangan dan mandiri energi ke
depan, sehingga inflasi bisa terkontrol. Mulai padi, jagung, kopi,
kakao, pala, sagu, ubi jalar, singkong, kita programkan semua untuk
saudara-saudara kita di sana," ujar Amran.
Ia menjelaskan,
pemerintah menargetkan pengembangan cetak sawah seluas 80 ribu hektare
di Papua sepanjang 2025 hingga 2026. Program tersebut juga disertai
dukungan mekanisasi pertanian melalui penyediaan alat dan mesin
pertanian (alsintan) modern guna meningkatkan produktivitas petani.
Amran
menambahkan, sebagian besar usulan yang disampaikan petani dan kepala
daerah dalam Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua 2026 telah
ditindaklanjuti oleh Kementerian Pertanian, mulai dari kebutuhan
traktor, pembangunan irigasi, hingga perluasan areal cetak sawah.
"Tadi
minta traktor, minta irigasi, minta cetak sawah. Semua permintaan hari
ini hampir 90 persen kami penuhi dan kalau progresnya bagus, 100 persen
kami penuhi permintaannya nanti, termasuk kopi, pala, kakao dan
seterusnya," tegasnya. Rill/Red
Petani Papua Dukung Program Cetak Sawah Rakyat untuk Penuhi Kebutuhan Pangan, Jawab Perubahan Zaman
Lk
Font size:
12px
Baca juga:

0Komentar