Jakarta,
25 April 2026 - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memaparkan kunci
kebijakan pemerintah di balik pencapaian swasembada dan peningkatan
kesejahteraan petani.
Hal ini dijelaskan langsung kepada sejumlah
pengamat lintas bidang saat sidak terbuka di gudang beras Bulog
Karawang, Kamis (23/4).
Amran menegaskan, swasembada beras tahun
2025 bukan hasil manipulasi data Badan Pusat Statistik (BPS). Bukan
hanya BPS saja yang menyatakan adanya peningkatan pesat produksi beras
Indonesia. Data Food and Agriculture Organization (FAO) serta United
States Department of Agriculture (USDA) juga menyatakan demikian.
Menurut
perhitungan FAO, produksi beras Indonesia pada musim tanam 2025/2026
mencapai 35,6 juta ton. Sementara data USDA menyebut produksi beras
Indonesia sebesar 34,6 juta ton pada 2025. Serupa dengan data BPS.
"(Data)
FAO (produksi beras Indonesia) 35,6 (juta ton). United States
Department of Agriculture ini 34,6 (juta ton). Artinya, Amerika
mengatakan (produksi beras Indonesia) 34,6 (juta ton). FAO 35 (juta
ton)," kata Amran, dikutip pada Sabtu (25/4).
Ia menjelaskan,
peningkatan produksi beras merupakan hasil dari berbagai kebijakan
pemerintah yang tepat. Mulai dari pembangunan irigasi, pompanisasi,
perbaikan benih, hingga cetak sawah baru.
Dari pompanisasi
misalnya, luas tanam padi dapat ditingkatkan. Sawah-sawah tadah hujan
yang biasanya hanya panen sekali dalam setahun, jadi bisa panen dua kali
dalam setahun. Tidak lagi bergantung pada musim hujan.
Dari
pompanisasi lahan pertanian seluas 1 juta hektare saja, bisa diperoleh
peningkatan produksi hingga 5 juta ton Gabah Kering Panen (GKP).
Rata-rata hasil panen padi di Indonesia mencapai 5 juta ton GKP per
hektare.
"Kita tanam hanya satu kali menjadi 2 kali karena
pomponisasi. Naik lah 1 juta (hektare). Kalau 1 juta (hektare), itu
(panen naik) 5 juta ton (GKP), tutur Amran.
Peningkatan produksi
juga diperoleh dari penanaman padi di lahan rawa yang sebelumnya tidak
produktif. Penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) modern hingga
perbaikan benih turut berperan penting.
"Ada alat mesin pertahanan dan seterusnya. Kemudian ekstensifikasi adalah cetak sawah 200 ribu hektare," ujar Amran.
Kemudian
untuk meningkatkan kesejahteraan petani, pemerintah berupaya
menyediakan sarana-sarana produksi yang baik. Misalnya jaminan
ketersediaan pupuk subsidi. Irigasi diperbaiki. Harga Pembelian
Pemerintah (HPP) untuk hasil panen petani dinaikkan.
Dampaknya,
biaya produksi yang ditanggung petani turun. Petani jadi lebih semangat
menanam. Hasil panen lebih melimpah dan harga jual lebih baik.
"Sarana
produksi baik. (Harga) Pupuknya dikurangi 20 persen. Irigasinya kita
perbaiki. Pompanisasi. Kemudian HPP-nya kita naikkan. Petani bersorak
dan menikmati ini. Seluruh Indonesia, 115 juta keluarga petani.
Kesejahteraannya lebih baik. Tentu daya belinya naik," papar Amran.
Hasilnya,
menurut data BPS, Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai rekor tertinggi
sebesar 125,45 pada Februari 2026. "Ini kata BPS, bisa dicek. Kalau data
saya bisa subjektif. Tapi ini data BPS," ucapnya.
Stok cadangan
beras pemerintah (CBP) pun menembus 5 juta ton, tertinggi sepanjang
sejarah. Amran mempersilakan para pengamat yang tidak percaya untuk
mengecek sendiri ke gudang-gudang beras di seluruh Indonesia.
"Teman-teman
wartawan, teman-teman pengamat, teman-teman guru besar, silakan cek.
Boleh cek seluruh gudang-gudang seluruh Indonesia tanpa kecuali. Kami
minta pada Dirut Bulog agar diberi ruang untuk seluruh teman-teman kita
yang ingin melihat langsung. Bahkan aku lihat anak-anak SMA, mahasiswa,
aktivis, masuk ke gudang. Silakan masuk, silakan cek karena ini adalah
tanggung jawab kita bersama. Ini adalah hasil kerja keras kita bersama,"
tutupnya. Rill/Red
Simak! Bukti Kebijakan Pemerintah di Balik Swasembada dan Peningkatan Kesejahteraan Petani
Lk
Font size:
12px
Baca juga:

0Komentar