Jakarta, inewsindonesia.com - Pemimpin Gereja Katolik, Paus Leo XIV, menyerukan pentingnya perdamaian dunia sekaligus mengingatkan bahaya normalisasi kekerasan dan perang dalam kehidupan global.

Pesan tersebut disampaikan saat memimpin Misa di Kepangeranan Monako, dalam kunjungan apostolik satu hari yang dilaporkan oleh Vatican News.

Dalam homilinya di Stadion Louis II, Paus menegaskan bahwa dunia tidak boleh terbiasa dengan konflik bersenjata dan kekerasan yang terus berulang.

“Jangan sampai kita terbiasa dengan hiruk pikuk senjata dan gambaran perang,” ujarnya di hadapan umat yang hadir. Minggu (29/03).

Ia menekankan bahwa setiap tindakan kekerasan membawa dampak mendalam bagi kemanusiaan. Menurutnya, setiap nyawa yang hilang akibat konflik merupakan luka bagi seluruh umat manusia.

“Setiap nyawa yang direnggut melukai tubuh Kristus,” tegasnya.

Paus juga mengingatkan bahwa perdamaian sejati tidak lahir dari sekadar keseimbangan kekuatan, melainkan dari hati yang dimurnikan dan mampu melihat sesama sebagai saudara, bukan sebagai musuh.

Dalam refleksi Injil yang diambil dari tulisan Santo Yohanes, Paus menyinggung kisah Yesus yang dijatuhi hukuman mati oleh para pemimpin agama. Ia menilai keputusan tersebut dipengaruhi oleh ketakutan dan kepentingan politik, bukan oleh kebenaran iman.

Menurutnya, situasi serupa masih terjadi hingga saat ini, ketika kekuasaan dan kepentingan kerap mengalahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Lebih lanjut, Paus menyoroti meningkatnya ketidakadilan dan konflik di berbagai belahan dunia. Ia mengutip pesan pengharapan dari Nabi Yeremia tentang perubahan ratapan menjadi sukacita, sebagai tanda bahwa harapan tetap ada di tengah penderitaan.

Ia juga mengungkapkan bahwa akar dari banyak konflik modern adalah apa yang disebutnya sebagai “penyembahan berhala” terhadap kekuasaan dan uang, yang pada akhirnya mendorong manusia untuk saling menindas.

“Hanya melalui rahmat dan pemurnian hati, manusia dapat kembali hidup sebagai saudara,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Paus turut mengajak Gereja di Monako untuk menjadi teladan dalam membangun kehidupan damai. Ia mendorong umat untuk menghadirkan kebahagiaan melalui iman, bukan semata-mata melalui hal-hal duniawi.

“Bawalah kebahagiaan kepada orang lain melalui imanmu,” pesannya.

Paus juga menekankan pentingnya kasih dalam kehidupan sehari-hari, termasuk perhatian kepada anak-anak, kaum muda, lansia, serta mereka yang sakit dan kesepian. Ia mengingatkan bahwa kasih Tuhan merupakan sumber sukacita sejati yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Menutup homilinya, Paus memanjatkan doa kepada Bunda Maria agar umat mampu membangun masyarakat yang inklusif, penuh kepedulian, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Pesan tersebut disampaikan di tengah situasi global yang masih diwarnai konflik dan ketegangan, sekaligus menjadi seruan moral bagi dunia untuk kembali menempatkan perdamaian dan kemanusiaan sebagai prioritas utama. Rill/Fredy